Twitter
Facebook

Kopi Telanjang..? The Naked Coffee

Kopi telanjang? Oh… apakah itu? Haha… Sebagai seorang penulis dan pencinta kopi, saya memang cenderung kreatif menamai sesuatu. Itu sebutan sayang saya pada Black Coffee. Kopi telanjang adalah kopi yang diminum tanpa gula, tanpa krim, tanpa susu. Sungguh-sungguh murni cita rasa esensi kopi itu sendiri. Terasa begitu telanjang. Dan original.

Memang sesungguhnya cara terbaik meminum kopi adalah seperti ini. Biarkan palet lidah kita menggelinjang oleh sensasi kentalnya intensitas kopi. Bukan oleh rasa manis dari gula atau gurihnya susu.

Bagi sebagian besar orang Indonesia, meminum kopi seperti ini memang masih dirasa menakutkan. Rasa pahit yang kuat sudah langsung membayang-bayang di kepala. Alih-alih memesan secangkir kopi hitam murni, jari-jemari lagi-lagi menunjuk menu pada ‘kopi meriah’ , sebuah sebutan sayang saya lagi pada kopi yang diembel-embeli susu, gula, whipped cream, caramel, butiran coklat, sirup, hingga es krim. Meriah sekali bukannn ?

Tidak ada yang salah dengan kopi meriah…  Ini juga menambah meriahnya hidup. Hanya saja sebagai pencinta kopi ( sejati ), merasai kopi  yang sebenar-benarnya kopi seperti mengalami cinta yang murni datang dari hati… Ah, sungguh dasar penulis, tetap saja saya berpuitis – puitis ria… kopi telanjang alias black coffee adalah cara pencinta kopi menikmatinya.

Kembali pada The Naked Coffee kita tercinta. Kunci utamanya memang originalitas. Konsep ini biasanya selalu saya temui di negara-negara barat. Salah satunya Perancis. Musim dingin lalu, saya berkesempatan jalan-jalan kesana. Dan ritual minum kopi di sore hari tentu saja tidak akan terlewatkan. Saya menyempatkan diri minum secangkir kopi di Les Editeurs, salah satu restoran favorit saya di pojok distrik seni dan fashion St. Germain des Pres.

Seperti yang sudah diduga, saat memesan kopi hitam, yang datang adalah secangkir ( kecil ) kopi yang pekat. Para Parisians tidak akan pernah bisa memahami konsep  Black Americano Coffee yang disajikan dalam cangkir besar dan encer. Buat mereka, itu sama saja seperti minum kopi bohong-bohongan, karena yang terasa hanyalah air. Buat saya, itu kurang telanjang… Hahaha…

Saat tegukan pertama mengalir membasahi rongga mulut, berbagai macam rasa bisa kita kenali… Tergantung dari jenis kopi yang kita minum itu sendiri. Ada aroma buah, bunga, ‘earthy’, kayu hingga asam.  Sehingga  sangat dianjurkan untuk meminum kopi tanpa dikreasikan dengan campuran . Bagaimana tidak? Karena merasai kopi seperti ini sama saja seperti berinteraksi dengan unsur-unsur alam secara natural dan intens. Dan hal itu tentulah sebuah pengalaman yang sungguh-sungguh memanjakan indera…

So… sudah siap untuk ikut telanjang bersama saya… ? Oops, maksud saya ikut merasakan nikmatinya sensasi kopi telanjang – The Naked Coffee?

BY: ISABELLE INTAN INDAH


Leave a Reply